Senin, 24 Oktober 2011

MAKALAH MANAJEMEN PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
MANAJEMEN LEMBAGA PENDIDIKAN

Lembaga pendidikan atau sekolah adalah  salah satu dari Tripusat pendidikan yang dituntut untuk mampu menjadikan output yang unggul, mengutip pendapat Gorton tentang sekolah ia mengemukakan, bahwa sekolah adalah suatu sistem organisasi, di mana terdapat sejumlah orang yang bekerja sama dalam rangka mencapai tujuan sekolah yang dikenal sebagai tujuan instruksional.
Istilah tersebut memang mempunyai pengertian dengan penekanan yang sedikit berbeda. Namun,langkah tersebut memiliki roh yang sama, yakni sekolah diharapkan dapat menjadi lebih otonom dalam pelaksanaan manajemen sekolahnya, khususnya dalam penggunakaan tangakai- tangkai yang ada dalam manajemen pendidikan seperti manajemen kurikulum yang penting dalam lembaga pendidikan serta manajemen kesiswaan demi membentuk siswa sesuai capaikan sebuah lembaga pendidikan itusendiri dan didukung pada manajemen lainnya yang saling berhungan seperti manajemen sarana prasarana dengan manajemen personalia/ anggota dan penyesuaian hubngan sekolah dan masyarakat.

Dan pada sebuah manajemen, tidak pengecualian juga terhadap manajemen lembaga pendidikan yang disamping telah mempertkuat tangkai – tangkai manajemenya seperti manajemen keuangan, tidak terlepas pula pada konsekuensi yang akan dihadapi sebagai bentuk tanggung jawab terhadap perumusan pencapaian yaitu adanya berupa tantangan yang akan terjadi pada seiring waktu nya untuk manajemen lembaga pendidikan tersebut.
Agar mengetahui beberapa kedalaman terhadap tangkai- tangkai manajemen lembaga pendidikan itu sendiri makan pada pembahasan ini akan dipaparkan beberapa poin yang bersangkutan sesuai pemaparan diatas.


BAB II
PEMBAHASAN

1. Garapan Manajemen Sekolah
Dalam ranah kegiatan pendidikan, ada beberapa pandangan dari para ahli tentang bidang-bidang kegiatan yang menjadi wilayah garapan manajemen pendidikan. Ngalim Purwanto mengelompokkanya ke dalam tiga bidang garapan, yaitu :
a.dministrasi material, yaitu kegiatanyang menyangkut bidang-bidang materi / benda-benda, seperti ke-tatausaha-an sekolah, administrasi keuangan, gedung dan alat-alat perlengkapan sekolah dan lain-lain.
b.Administrasi personal, mencakup di dalamnya administrasi personal guru dan pegawai sekolah, juga administrasi murid. Dalam masalah kepemimpinan dan supervisi / kepengawasan memegang peranan yang sangat penting .
c.Administrasi kurikulum, seperti tugas mengajar guru-guru, penyusunan silabus atau rencana pengajaran tahunan, persiapan harian dan mingguan dan sebagainya. Thomas J Sergiovani mengemukakan delapan bidang administrasi pendidikan, mencakup:
a.nsturction and curirulum development
b.Pupil personnel
c.Commnity school leadership
d.Staff personnel
e.School plant
f.School transportation
g. Organization and structure 
h.School finance and business management [1]
Perlu digaris bawahi, bahwa dalam konteks pendidikan di Indonesia saat ini pandangan Thomas J. Segiovani kiranya belum sepenuhnya dapat dilaksanakan, teruama dalam bidang transportasi sekolah dan manajemen bisnis.
.           Dgan alasan tertentu, kebijakan umum pendidikan nasional belum dapat menjangkau kearah sana. Kendati demikian, dalam kerangka peningkatan mutu pendidikan, kedepannya pemikira ini sangat menarik untuk diterapka menjadi kebijakan pendidikan di Indonesia. Direkotrat Pendidikan Menengah Umum Depdiknas telah menerbitka buku Panduan Manajemen Sekolah, yang di dalamnya mengetangahkan bidang-bidang kegiatan manajemen pendidikan, meliputi :
a.Manajemen Kurikulum
b.Manajemen Personalia
c.Manajemen kesiswaan
d.Manajemen Keuangan
e.Manajemen sarana prasarana
 Jadi manajemen pendidikan berarti, semua akan berhasil lancar melalui usaha-usaha bersama orang lain. Tentu saja usaha-usaha itu didasarkan atas rencana yang disusun, dananya dicari/sudah tersedia, tenaga dipilih/dipersiapkan, pelaksana sudah terdidik/terlatih, pengawasan harus berfungsi dengan baik dan akhirnya diperlukan evaluasi sejauh  mana rencana dapat diwujudkan, semua hasil yang telah dicapai dikomunikasikan secara terbuka dengan menyebutkanberbagai kemudahan dan hambatan dalam proses pelaksanaannya.
Dalam penerapan manajemen sekolah yang efektif secara spesifik mengidentifikasi beberapa manfaat spesifik dari garapan manajemen sekolah yang antara lain yaitu:
-mungkinkan orang-orang yang kompeten di sekolah untuk mengambil keputusan yang akan meningkatkan pembelajaran.
-Memberi peluang bagi seluruh anggota sekolah untuk terlibat dalam pengambilan keputusan penting.
-Mendorong munculnya kreativitas dalam merancang bangun program pembelajaran.
-Mengarahkan kembali sumber daya yang tersedia untuk mendukung tujuan yang dikembangkan di setiap sekolah.
-Menghasilkan rencana anggaran yang lebih realistik ketika orang tua dan guru makin menyadari keadaan keuangan sekolah, batasan pengeluaran, dan biaya program-program sekolah.
-Meningkatkan motivasi guru dan mengembangkan kepemimpinan baru di semua level.[2]

2.     Manajemen Kurikulum .
2. 1. Pengertian Manajemen Kurikulum
Kurikulum merupakan program pengajaran yang harus dicapai oleh murid. Kurikulum berisi bidang studi serta materi yang harus dipelajari, kegiatan yang harus dilakukan, metode mengajar guru, dan teknik evaluasi yang digunakan di dalam kelas. Dalam pelaksanaannya, kurikulum itu fleksibel. Isi kurikulum, materi, metode mengajar dan teknik evaluasi yang digunakan oleh seorang guru berbeda dengan guru lainnya meskipun kurikulumnya sama.
Manajemen kurikulum yang harus dilaksanakan oleh guru di dalam kelas harus mengikuti kurikulum yang berlaku, sebab program yang tercantum di dalamnya telah direncanakan dan dipilih oleh para ahli dalam bidangnya masing-masing. Guru melengkapi kurikulum tersebut dengan gagasan dan keahliannya sendiri. Semua guru memiliki program, keahlian, dan pengalaman yang dapat digunakan untuk memperkaya pelaksanaan kurikulum, khususnya yang menyangkut muatan lokal.
Seorang guru perlu mengatur tujuan yang ingin dicapai dan kegiatan yang akan kegiatan yang akan dilakukan untuk mengatur tujuan seorang guru harus merencanakan pengajaran individual sehingga pengajaran langsung diberikan untuk mengajarkan fakta, pengertian dan keterampilan.
Agar tujuan pembelajaran bisa dicapai dengan baik maka seorang guru harus melaksanakan tehknik mengajar dengan:
a. Memusatkan perhatian pada murid
b. Menghemat waktu
c. Menyesuaikan dengan kecepatan murid
d. Mengusahakan masa transisi yang harus dari satu bidang studi ke bidang studi selanjutnya
e. Meminta murid untuk membuat ikhtisar yang telah di pelajari[3]

2 .2. Pengorganisasian Kurikulum
Pengorganisasian kurikulum ini mempunyai pengaruh yang besar dalam pelaksanaan pengajaran, sebab ; Pertama, kurikulum itu menentukan hakikat dan isi buku teks, dan materi pengajaran. Kedua, kurikulum memberi arahan, urutan materi serta saran-saran tentang metode pengajaran dan alat evaluasi yang digunakan.
Dalam pengorganisasian kurikulum, ada lima komponen pokok, yaitu :
1. Tujuan belajar yang dinyatakan secara jelas.
2. Spesifikasi pengetahuan, keterampilan dan sikap berdasarkan tingkatan kelas.
3. Diskripsi atas kegiatan non materi pengajaran.
4. Pengorganisasian atas luas dan urutan bahan untuk diajarkan sehari-hari.
5. Prosedur evaluasi yang cocok dengan tujuan yang akan dicapai.[4]
Dalam merencanakan manajemen kurikulum, guru perlu mempertimbangkan tujuan umum dan tujuan khusus secara tepat yang ingin dicapai oleh murid dalam memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap.
Hakikat dan kemampuan murid serta filsafat pendidikan dalam belajar mengajar yang tercermin dalam hal-hal yang menyangkut arahan, bantuan, interaksi, tanggungjawab, dan keterlibatan secara aktif harus disertakan pula dalam merencanakan kurikulum.
Faktor-faktor lain yang perlu dipertimbangkan guru dalam manajemen kurikulum adalah :
1. Pengelompokan murid, yaitu dalam kelompok besar, kelompok kecil, dan belajar sendiri.
2. Metode mengajar yang dapat menggerakan murid menjadi aktif. Metode mengajar antara lain berupa metode-metode diskusi, demonstrasi, observasi, membaca, dan melakukan penelitian. Penggunaan metode ini harus disesuaikan dengan tujuan yang akan dicapai.
3. Bidang studi yang meliputi cara mengorganisasikan pengajran, melalui pelajaran, memberikan pelajaran, mempertahankan situasi belajar yang kondusif.

2. 3.  Pengembangan kurikulum
Ada berbbagai prinsip pengembangan kurikulum yang merupakan kaidah yang menjiwai kurikulum tersebut. Pengembangan kurikulum dapat menggunakan prinsip- prinsip yang telah berkembang didalam kehidupan sehari- hari atau menciptakan prinsip- prinsip baru. Namun dari berbagai prinsip ada tiga diantaranya yang dasar dalam pengembangan prinsip kurikulum yakni prinsip relevansi, prinsip kontinuitas, dan prinsip fleksibilitas.

2. 4.  Penyelenggaraan  Kurikulum
Penyebab terjadinya variasi dalam kurikulum adalah filosofi guru dalam proses belajar dan mengajar serta pandangan guru terhadap murid. Sebagai contoh : seorang guru A yang mengajarkan matematika pada muridnya kelas V membagi satu jam pelajaran (40 menit) sebagai berikut : menjelaskan teknik memecahkan soal (10 menit), beberapa murid mencoba memecahkan soal (10 menit) dan selanjutnya semua murid mengerjakan soal yang ada di buku matematika (20 menit). Sedangkan guru B pada kelas V juga di sekolah lain dalam mengajarkan matematika yang sama menggunakan cara lain : guru menuliskan sebuah soal di papan tulis, dan menanyakan siapa yang dapat mengerjakan. Kalau ada yang bisa, guru meyimpulkan secara singkat cara yang digunakan murid memecahkan soal. Setelah itu semua murid diminta mengerjakan soal yang ada di buku matematika. Guru A menggunakan cara tradisional untuk mengajarkan matematika. Guru A lebih bersifat “guru-sentris”. Sedangkan guru B menggunakan pendekatan pemecahan masalah dan lebih bersifat “murid-sentris”.

3.     Manajemen Kesiswaan.
3. 1. Pengertian Manajemen Kesiswaan
Ungkapan manajemen kesiswaan terdiri dari dua kata yaitu manajemen dan kesiswaan. Penulis tidak lagi mendiskripsikan pengertian manajemen, mengingat pada makalah sebelumnya telah dibahas secara terperinci dan jelas pengertian manajemen. Sementara itu yang dimaksud dengan kesiswaan ialah segala sesuatu yang menyangkut dengan peserta didik atau yang lebih populer dengan istilah siswa. Dengan demikian manjemen kesiswaan memiliki pengertian suatu proses pengurusan segala hal yang berkaitan dengan siswa di suatu sekolah mulai dari perencanaan, penerimaan siswa, pembinaan yang dilakukan selama siswa berada di sekolah, sampai dengan siswa menyelesaikan pendidikannya di sekolah melalui penciptaan suasana pembelajaran yang kondusif dan konstruktif terhadap berlangsungnya proses belajar mengajar atau pembelajaran yang efektif.[5]
Dengan kata lain manajemen kesiswaan merupakan keseluruhan proses penyelenggaraan usaha kerjasama dalam bidang kesiswaan dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran di sekolah. Adapun manajemen kesiswaan itu sendiri memiliki tujuan mengatur kegiatan-kegiatan dalam bidang kesiswaan agar proses pembelajaran yang dilaksanakan di suatu sekolah dapat berjalan dengan lancar, tertib dan teratur sedemikian rupa sehingga apa yang menjadi tujuan utama dari suatu program pembelajaran di sekolah dapat tercapai secara optimal.

3. 2. Peran Siswa Pada Pendidikan
Siswa juga memiliki kewajiban untuk ikut menanggung penyelenggaraan pendidikan, menghormati tenaga pendidikan dan siswa juga berkewajiban untuk mematuhi peraturan yang berlaku. Adapun hal-hal yang dapat dilakukan dalam rangka pembinaan kesiswaan meliputi pemberian orientasi kepada mahasiswa baru, pengaturan dan pencatatan kehadiran siswa. Kegiatan ini merupakan kegiatan dan tugas yang sangat esensial dalam pengelolaan kesiswaan, karena kehadiran siswa merupakan syarat untuk memperoleh ilmu pengetahuan dan mendapatkan pengalaman belajar. Ada beberapa alat yang digunakan untuk mencatat kehadiran siswa seperti, papan absensi harian siswa per kelas dan per sekolah, buku absensi harian siswa dan rekapitulasi absensi siswa.
Hal lain yang juga dapat dilakukan untuk pembinaan kesiswaan ialah mencatat prestasi dan kegiatan siswa berupa daftar siswa di kelas, grafik prestasi belajar dan daftar kegiatan siswa. Di samping itu juga dapat dilakukan pengaturan disiplin siswa di sekolah, karena disiplin merupakan suatu keadaan dimana sikap, penampilan dan tingkah laku siswa sesuai dengan tatanan nilai, norma dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di sekolah dan di kelas dimana mereka berada. Dalam kerangka peningkatan disiplin, siswa dapat mengupayakan dan berusaha untuk melakukan hal-hal berikut seperti; hadir di sekolah 10 menit sebelum pelajaran dimulai, mengikuti semua kegiatan belajar mengajar dengan aktif, mengerjakan tugas dengan baik, mengikuti kegiatan ekstra kurikuler yang dipilihnya, memiliki kelengkapan belajar, mematuhi tata tertib sekolah, tidak meninggalkan sekolah tanpa izin dan lain-lain yang dapat meningkatkan disiplin siswa.
Di samping itu, dapat juga dilakukan hal-hal lain dalam rangka pembinaan kesiswaan seperti pengaturan tata tertib sekolah karena tata tertib merupakan salah satu alat yang dapat digunakan oleh kepala sekolah untuk melatih siswa agar dapat mempraktikkan disiplin, pemberian promosi dan mutasi seperti dengan adanya kenaikan kelas yang merupakan perpindahan dari satu kelas ke kelas lainnya yang lebih tinggi setelah melalui persyaratan tertentu yang telah dibuat dan norma tertentu juga yang telah ditetapkan oleh sekolah. Sementara mutasi merupakan perpindahan siswa dari satu sekolah ke sekolah lainnya karena alasan tertentu. Mutasi harus dilakukan dengan prosedur tertentu dan mekanisme tertentu pula serta harus dicatat pada dua sekolah, sekolah asal dan sekolah yang dituju. Kegiatan selanjutnya yang juga dapat dilakukan dalam rangka pembinaan kesiswaan adalah pengelompokan siswa.
Kegiatan pengelompokan siswa merupakan kegiatan yang biasanya dilakukan setelah seorang siswa dinyatakan lulus dan boleh mengikuti program pembelajaran di sekolah tertentu. Kegiatan pengelompokan ini dimaksudkan agar tujan yang telah ditetapkan dalam proses pembelajaran dapat tercapai secara optimal dengan efektif dan efisien. Wujud dari kegiatan pengelompokan ini ialah pembagian siswa kedalam kelas-kelas maupun kelompok belajar tertentu dengan alasan dan pertimbangan tertentu seperti tingkat prestasi yang dicapai sebelumnya dan lain sebagainya.
Selain pengembangan dan pembinaan siswa yang ditinjau dari segi kokurikuler juga ada kegiatan ekstra kurikuler. Kegiatan kokurikuler bertujuan agar siswa lebih mendalami dan menghayati bahan yang dipelajari dalam kegiatan intra kurikuler.
Kegiatan tersebut dapat dilaksanakan baik secara perorangan maupun secara kelompok, dalam bentuk pekerjaan rumah ataupun tugas-tugas lain yang menjadi bagian dari kegiatan pembelajaran dengan tatap muka. Sementara itu kegiatan ekstra kurikuler merupakan kegiatan yang dilakukan diluar jam pelajaran, baik itu dilakukan di sekolah maupun diluar sekolah namum masih dalam ruang lingkup tanggung jawab kepala sekolah. Kegiatan ekstra kurikuler ini bertujuan untuk memperkaya dan memperluas wawasan pengetahuan siswa mendorong pembinaan nilai dan sikap mereka demi untuk mengembangkan minat dan bakat siswa. Siswa dalam hal ini dapat memilih kegiatan ekstra kurikuler yang mana yang ia minati yang sesuai dengan kecenderungan jiwa mereka. Kegiatan ekstra kurikuler ini mengutamakan pada kegiatan kelompok.
Ada beberapa hal yang perlu dan harus diperhatikan dalam melaksanakan kegiatan ekstra kurikuler seperti ; meningkatkan aspek pengetahuan, sikap dan keterampilam siswa, mendorong bakat dan minat mereka, menentukan waktu, obyek kekuatan sesuai dengan kondisi lingkungan. Selain itu kegiatan ekstra kurikuler dapat dilakukan dalam berbagai bentuk kegiatan seperti; kepramukaan, usaha kesehatan sekolah, patroli keamanan sekolah, peringatan hari-hari besar agama dan nasional, pengenalan alam sekitarnya, oleh raga dan lain sebagainya
.Apabila manajemen kesiswaan kita hadapkan pada konteks sekarang, maka kesiapan siswa dalam menghadapi tantangan-tantangan kontemporer tentu jauh lebih berat bila dibandingkan dengan era yang dihadapi oleh siswa pada dasa warsa sebelumnya. Siswa dihadapkan pada tantangan global yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya dan teknologi yang mengitarinya.
Pembinaan kesiswaan mempunyai nilai yang strategis, di samping sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan sumber daya manusia masa depan, sasarannya adalah anak usia 6-18 tahun, suatu tingkat perkembangan usia anak, dimana secara psikis dan fisik anak sedang mengalami pertumbuhan, suatu periode usia yang ditandai dengan kondisi kejiwaan yang tidak stabil, agresifitas yang tinggi dan mudah dipengaruhi oleh lingkungan. Guna mengantisipasi kompleksitas permasalah diperlukan pembinaan anak usia sekolah dengan profesional yang di dalamnya mengandung berbagai nilai, seperti peningkatan mutu gizi, perilaku kehidupan beragama dan perilaku terpuji, penanaman rasa cinta tanah air, disiplin dan kemandirian, peningkatan daya cipta, daya analisis, prakarsa dan daya kreasi, penumbuhan kesadaran akan hidup bermasyarakat, serta kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan sehingga diharapkan anak nantinya akan menjadi sosok yang siap dan tahan banting menghadapi kompleksitas tantangan perkembangan zaman yang semakin pesat.

4.     Manajemen Sarana Prasarana.
4. 1.  Pengertian manajemen sarana prasarana.
Sarana Pendidikan adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabot yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah. Sedangkan Prasarana Pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah.
Dalam hubungannya dengan sarana pendidikan, ada sejumlah pakar pendidikan yang mengklasifikasikan menjadi beberapa macam sarana pendidikan yang ditinjau dari berbagai macam sudut pandang. Pertama, ditinjau dari habis tidaknya dipakai, ada dua macam sarana pendidikan, yaitu sarana pendidikan yang habis pakai dan sarana pendidikan yang tahan lama. Kedua, ditinjau dari bergerak tidaknya, ada dua macam sarana pendidikan, yaitu sarana pendidikan yang bergerak dan sarana pendidikan yang tidak bisa bergerak Ketiga, ditinjau dari hubungannya dengan proses belajar mengajar ada dua jenis sarana pendidikan di sekolah, yaitu sarana pendidikan yang secara langsung digunakan dalam proses belajar mengajar, dan sarana pendidikan yang secara tidak langsung berhubungan dengan  proses belajar mengajar.
Sedangkan prasarana pendidikan di sekolah bisa diklasifikasikan menjadi dua macam. Pertama, prasarana pendidikan yang secara langsung digunakan untuk proses belajar mengajar, seperti ruang teori, ruang perpustakaan, ruang praktik keterampilan, dan ruang laboratorium. Kedua, prasarana sekolah yang keberadaannya tidak digunakan untuk proses belajar mengajar, tetapi secara langsung sangat menunjang terjadinya proses belajar mangajar. Beberapa contoh tentang prasarana sekolah jenis terakhir tersebut di antaranya adalah ruang kantor, kantin sekolah, tanah dan jalan menuju sekolah, kamar kecil, ruang usaha kesehatan sekolah, ruang guru, ruang kepala sekolah, dan tempat parkir kendaraan.

5.     Manajemen Personalia/ Anggota.
5. 1. Pengertian manajemen personalia
Personalia adalah semua anggota organisasi yang bekerja untuk kepentingan organisasi yaitu untuk mencapai tujuan yang sudah ditentukan. Personalia organisasi pendidikan mencakup para guru, para pegawai,dan para wakil siswa/mahasiswa. Termasuk juga para manajer pendidikan yang mungkin dipegang oleh beberapa guru.
Manfaat manajemen personalia bagi pendidikan adalah karena merupakan salah satu sub sistem manajemen yang perlu mendapat perhatian yang sama dengan sub sistem manajemen yang lain yang merupakan kunci keberasilan pendidikan serta memajukan organisasi dan sekaligus memeperhatikan dan memajukan personalia.
Ada beberapa pendekatan dalam perencanaan pendidikan antara lain adalah pendekatan tuntutan sosial, ketenaga kerjaan, biaya, keuntugan, ekonomi, dll. Kebutuhan akan jumlah tenaga pendidikan sudah direncanakan oleh pemerintahan indonesia untuk jangka waktu tertentu makasudnya yaitu pemerintah mencetak guru guru sementara yang disebut program diploma. Begitu pula hal nya dengan macam keterampilan dan keahlian serta jumlah nya masing- masing sudah pula direncanakan. Yang menjadi masalah adalah belum semua lembaga pendidikan menerima dan memiliki tenaga- tenaga pendidikan mencukupi, lagipula tenaga- tenaga yaitu belum memenuhi syarat kompetensinya dan beberapa tenaga ditempatkan pada jabatan kurang cocok.
Tujuan latihan personalia dan pendidikan adalah :
1.      untuk meningkatkan kuantitas output.
2.      meningkatkan kualitas output.
3.      merealilasikan perencanaan personalia.
4.      meningkatkan moral kerja.
5.      menigkatkan penghasilan atau kesejahtraan.

Pengembangan kepribadian dilakukan secara langsung dan tidak langsung.mengembangkan personalia pada hakikatnya ialah melaksanakan prinsip belajar seumur hidup salah satunya ialah menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan individu.[6]

6.     Manajemen Keuangan.
Manajemen keuangan di sekolah terutama berkenaan engan kiat sekolah dalam menggali dana, kiat sekolah dalam mengelola dana, pengelolaan keuangan dikaitkan dengan program tahunan sekolah, cara mengadministrasikan dana sekolah, dan cara melakukan pengawasan, pengendalian serta pemeriksaan. Inti dari manajemen keuangan adalah pencapaian efisiensi dan efektifitas. Oleh karena itu, disamping mengupayakan ketersediaan dana yang memadai untuk kebutuhan pembangunan maupun kegiatan rutin operasional di sekolah, juga perlu diperhatikan faktor akuntabilitas dan transparansi setiap penggunaan keuangan baik yang bersumber pemerintah, masyarakat dan sumber-sumber lainnya. Rencana pembiayaan adalah berkaitan dengan penjabaran pembiayaan dan program kerja tahunan sekolah / madrasah. Pembiayaan yang direncanakan baik penerima maupun penggunanya selama satuan tahun itulah yang dituangkan dalam Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Sekolah (RAPBS). Dalam Depdiknas (1999)  dijelaskan ada beberapa langkah dala penyusunan RAPBS, yaitu :
1)Menginventaris program / kegiatan sekolah selama satu tahun mendatang 2)Menyusun program / kegiatan tersebut berdasarkan jenis kerja dan prioritas
3)Menghitung volume, harga satuan dan kebutuhan dana untuk setiap komponen kegiatan
 4)Membuat krtas kerja dan lembaran kerja, menentukan sumber dana dan pembebanan anggaran serta menuangkannya ke dalam format buku RAPBS
 5)Menghimpun data pendukung yang akurat untuk bahan acuan guna memprtahankan nggaran yang diajukan Anggaran biaya sekolah terdiri dari dua hal yang satu sama lain saling berkaitan, yakni :
a.nggaran penerimaan / pendapatan adalah pendapatan yang diperoleh setiap tahunoleh sekolah dari berbagai sumber resmi dan diterima secara teratur atau tidak.
b.Anggaran pengeluaran adalah jumlah uang yang dibelanjakan setiap tahun untuk kepentingan pelaksanaan pendidikan dan pembelajaran di sekolah yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diselenggarakan.
Pengeluaran sekolah tersebut dapat dikategorikan kepada beberapa hal, yaitu :
1)Pengeluaran untuk pelaksanaan pembelajaran
2)Pengeluaran untuk tata usaha sekolah
3)Untuk pemeliharaan sarana dan prasarana (fasilitas) sekolah
4)Pengeluaran untuk kesejahteraan pegawai
5)Pengeluaran untuk administrasi
6) Pengeluaran untuk pembinaan teknis pendidikan[7]

7.     Manajemen Hubungan Sekolah Dan Masyarakat.
7. 1. Pengertian manajemen hubungan dan masyarakat
Ada hubungan saling memberi dan menerima antara lembaga pendidikan merealisasikan apa yang dicita citakan oleh masyarakat. Lembaga pendidikan sesungguhnya melaksanakan fungsi rangkap terhadap masyarakat yaitu memberi layanan dan sebagai agen atau penerang. Fungsi layanan ini tidak hanya terbatas kepada pemberian pendidikan dan pengajaran kepada para putra masyarakat. Tetapi juga melayani aspirasi daerah lain tidak sama. Lembaga pendidikan mencetak tenaga-tenaga menengah atau tenaga ahli yang sesuai kebutuhan setiap daerah. lembaga pendidikan lebih mudah menempatkan dirinya didalam masyarakat dalam arti dapat diterima sebagai bagian dalam masyarakat.
Hubungan kerjasama lembaga masyarakat dengan lembaga mengikuti perubahan – perubahan lingkungan dengan pendekatan situasional. yaitu paling menarik bagi masyarakat adalah bila lembaga pendidikan itu sanggup mencetak lulusan yang siap pakai.
Beberapa contoh partisipasi masyarakat dalam pendidikan adalah seperti dalam bentuk partisipasi antara lain sebagai dewan pendidikan, komite sekolah, persatuan orang tua siswa, perkumpulan olah raga, perkumpulan kesenian dan organisasi – organisasi yang lain. Pada bidang partisipasi antara lain kurikulum terutama lokal, alat – alat belajar, dana, material untuk bangunan, auditing keuangan, kontrol terhadap kegiatan- kegiatan sekolah dan sejenisnya. Dan cara berpartisipasinya antara lain ikut dalam pertemuan, datang kesekolah, lewat surat, lewat telefon, ikut malam kesenian.[8]

8.     Manajemen Layanan Khusus.
8. 1. Pengertian manajemen layanan khsus
Manajemen layanan khusus di suatu sekolah merupakan bagian penting dalam Manajemen Berbasis Sekolah yang efektif dan efisien. Sekolah merupakan salah satu sarana yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas dari sebuah penduduk bangsa. Sekolah tidak hanya memiliki tanggung jawab dan tugas untuk melaksanakan proses pembelajaran dalam mengembangkan ilmu penegetahuan dan teknologi saja, melainkan harus menjaga dan meningkatkan kesehatan baik jasmani maupun rohani peserta didik.
Untuk memenuhi tugas dan tanggung jawab tersebut maka sekolah memerlukan suatu manajemen layanan khusus yang dapat mengatur segala kebutuhan peserta didiknya sehingga tujuan pendidikan tersebut dapat tercapai.
Manajemen layanan khusus di sekolah pada dasarnya ditetapkan dan di organisasikan untuk mempermudah atau memperlancar pembelajaran, serta dapat memenuhi kebutuhan khusus siswa di sekolah. Pelayanan khusus diselenggarakan di sekolah dengan maksud untuk memperlancar pelaksanaan pengajaran dalam rangka pencapain tujuan pendidikan di sekolah. Pendidikan di sekolah antara lain juga berusaha agar peserta didik senanatiasa berada dalam keadaan baik. Baik disini menyangkut aspek jasmani maupun rohaninya.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa manajemen layanan khusus adalah suatu proses kegiatan memberikan pelayanan kebutuhan kepada peserta didik untuk menunjang kegiatan pembelajaran agar tujuan pendidikan bisa tercapai secara efektif dan efisien.

8. 2. Jenis-Jenis Layanan Khusus
      Pelayanan khusus yang diberikan sekolah kepada peserta didik, antar sekolah satu dengan sekolah lainnya pada umumnya sama, tetapi proses pengelolan dan pemanfaatannya yang berbeda. Beberapa bentuk manajemen layanan khusus yang ada di sekolah antara lain yaitu :
a.            Layanan perpustakaan peserta didik
Perpustakaan merupakan salah satu unit yang memberikan layanan kepada peserta didik, dengan maksud membantu dan menunjang proses pembelajaran di sekolah, melayani informasi-informasi yang dibutuhkan serta memberi layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka.
Menurut Supriyadi (1983) dalam buku Manajemen Peserta Didik oleh Ali Imron mendefinisikan perpustakaan sekolah sebagai perpustakaan yang diselenggarakan di sekolah guna menunjang program belajar mengajar di lembaga pendidikan formal seperti sekolah, baik sekolah tingkat dasar maupun menengah, baik sekolah umum maupun kejuruan. Selain itu, perpustakaan sekolah adalah salah satu unit sekolah yang memberikan layanan kepada peserta didik di sekolah sebagai sentra utama, dengan maksud membantu dan menunjang proses belajar mengajar di sekolah, melayani informasi-informasi yang dibutuhkan serta memberikan layanan rekreatif melalui koleksi bahan pustaka (Imron, 1995:187). Dari definisi-definisi tersebut tampaklah jelas bahwa perpustakaan sekolah merupakan  suatu unit pelayanan sekolah guna menunjang proses belajar mengajar di sekolah.

b.            Layanan kesehatan peserta didik
Layanan kesehatan di sekolah biasanya dibentuk sebuah wadah bernama Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Usaha kesehatan sekolah adalah usaha kesehatan masyarakat yang dijalankan sekolah.
Menurut Jesse Ferring William pada buku Pengelolaan Layanan Khusus Di sekolah oleh Kusmintardjo (1992) mendefinisikan layanan kesehatan adalah sebuah klinik yang didirikan sebagai bagian dari Universitas atau sekolah yang berdiri sendiri yang menentukan diagnosa dan pengobatan fisik  dan penyakit jiwa dan dibiayai dari biaya khusus dari semua siswa. Selain itu layanan kesehatan juga dapat diartikan sebagai usaha sekolah dalam rangka membantu (mungkin bersifat sementara ) murid-muridnya yang mengalami persoalan yang berkaitan dengan kesehatan.
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa layanan kesehatan peserta didik adalah suatu layanan kesehatan masyarakat yang dijalankan di sekolah dan menjadikan peserta didik sebagai sasaran utama, dan personalia sekolah yang lainnya sebagai sasaran tambahan (Imron, 1995:154)

c.         Layanan asrama peserta didik
Bagi para peserta didik khususnya jenjang pendidikan menengah dan pendidikan tinggi, terutama bagi mereka yang jauh dari orang tuanya diperlukan diperlukan asrama. Selain manfaat untuk peserta didik, asrama mempunyai manfaat bagi para pendidik dan petugas asrama tersebut.

d.         Layanan bimbingan dan konseling
Layanan bimbingan dan konseling adalah proses bantuan yang diberikan kepada siswa dengan memperhatikan kemungkinan dan kenyataan tentang adanya kesulitan yang dihadapi dalam rangka perkembangan yang optimal, sehingga mereka memahami dan mengarahkan diri serta bertindak dan bersikap sesuai dengan tuntutan dan situasi lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan bimbingan dan konseling adalah salah satu kegiatan bantuan dan tuntunan yang diberikan kepada individu pada umumnya dan siswa pada khususnya di sekolah dalam rangka meningkatkan mutunya.

e .           Layanan kafetaria peserta didik
Kantin/ warung sekolah diperlukan adanya di tiap sekolah supaya makanan yang dibeli peserta didik terjamin kebersihannya dan cukup mengandung gizi. Para guru diharapkan sekali-kali mengontrol kantin sekolah dan berkonsultasi dengan pengelola kantin mengenai makanan yang bersih dan bergizi. Peran lain kantin sekolah yaitu supaya para peserta didik tidak berkeliaran mencari makanan keluar lingkungan sekolah.
Layanan kafentaria adalah layanan makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh peserta didik disela-sela mengikuti kegiatan belajar mengajar di sekolah sesuai dengan daya jangkau peserta didik. Makanan dan minuman yang tersedia di kafentaria tersebut, terjangkau dilihat dari jumlah uang saku peserta didik, tetapi juga memenuhi syarat kebersihan dan cukup kandungan gizinya.

f.             Layanan laboratorium peserta didik
Laboratorium diperlukan peserta didik apabila mereka akan mengadakan penelitiam yang berkaitan dengan percibaan-percobaan tentang suatu obyek tertentu. Laboratorium adalah suatu tempat baik tertutup maupun terbuka yang dipergunakan untuk melakukan penyelidikan, pecobaan, pemraktekan, pengujian, dan pengembangan. Laboratorium sekolah adalah sarana penunjang proses belajar mengajar baik tertutup maupun terbuka yang dipergunakan untuk melaksanakan praktikum, penyelidikan, percobaan, pengembangan dan bahkan pembakuan.

g.                          Layanan koperasi peserta didik
Layanan koperasi mendidik para peserta didik untuk dapat berwirausaha. Hal  ini sangat membantu peserta didik di kehidupan yang akan datang. Koperasi sekolah adalah koperasi yang dikembangkan di sekolah, baik sekolah dasar, sekolah menengah, maupun sekolah dan dalam pengelolannya melibatkan guru dan personalia sekolah. Sedangkan koperasi peserta didik atau biasa disebut disebut koperasi siswa (Kopsis) adalah koperasi yang ada di sekolah tetapi pengelolaanya adalah oleh pesera didik, kedudukan guru di dalam Kopsis adalah sebagai pembimbing saja
h.                          Layanan keamanan
Layanan keamanan yaitu layanan yang dapat memberikan rasa aman pada siswa selama siswa belajar di sekolah misalnya adanya penjagaan oleh satpam sekolah.

 9 .       Tantangan manajemen sekolah.
Tidak hanya pada sebuah objek yang akan dihadapi untuk mencapai keberhasilan yang ditujukan dengan resiko yang sudah ditaksirkan yaitu tantangan – tantangan yanag akan singgah pada objek tersebut,maka demiian jugalah pada pendidikan Indonesia saat ini setidaknya menghadapi tantangan besar yang kompleks yaitu: tantanngan untuk menigkatkan nilai tambah  (added value) yaitu bagaiman meningkatkan nilai tambah dalam rangka menigkatkan nilai produktivitas pertumbuhan dan perekonomi sebagai upaya untuk memelihara dan meningkatkan pembangunan yang berkelanjutan. Serta, tantangan untuk melakukan pengkajian secara komprehensif dan mendalam terhadap terjadinya transformasi (perubahan) struktur masyarakat yang agraris ke masyarakat industri yang menguasai teknologi dan informasi, yang implikasinya pada tuntutan dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM).Dan selanjutnya, dalam persaingan global yang semakin ketat, yaitu bagaimana meningkatkan daya saing bangsa dalam meningkatkan karya-karya yang bermutu dan mampu bersaing sebagai hasil penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni (ipteks). Yang paling terkemukanmunculnya kolonialisme baru di bidang iptek dan ekonomi menggantikan kolonialisme politik. Dengan demikian kolonialisme kini tidak lagi berbentuk fisik, melainkan dalam bentuk informasi. Berkembangnya teknologi informasi dalam bentuk komputer dan internet, sehingga bangsa Indonesia tergantung pada bangsa-bangsa yang telah lebih dulu menguasai teknologi informasi.
   Mengartikan bahwa semua tantanngan ini haurs dihadapi dan harus dikejar ketinggalannya artinya kompetisi dalam meraih prestasi terlebih dalam menghadapi persaingan global.











BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN

Pada setiap sekolah memiliki sebuah pencapaian atau pun tujuan untuk sebuah lembaga pendidikan itu menjadi lebih baik lagi dengan dihadapkan nya pada masalah –masalah yang dapat ditaksirkan dengan beberapa tnanganan berupa manajemen agar tercapainya kualitas yang maksimal dari penggarapan manajemen lembaga pendidikan itu sendir seperti manajemen kurikulum, manajemen kesiswaan, maanjemen sarana prasarana, manajemen personalia/anggota, manajemen keuangan, dan manajemen hubungan sekolah dan masyarakat serta manajemen layanan khusus. Maka dengan terprogesnya dukungan manajemen terhadap ebuah lembaga pendidikan tersebut lebih memperlancar pencapaian yang ditujukan.




















DAFTAR PUSTAKA

1.      Pidarata, Made,prof,dr. Manajemen Pendididkan Indonesia. Jakarta: 2004.
2.      Dimyati, Mudjiono. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.
3.      Rohiat. Manajemen Sekolah ; Teori Dasar dan Praktik. Bandung: pt. Refika Aditama, 2008.












[1]http : / /www.docstoc.com
[2] Belajar dan mengajar.( 2006)
[3] Belajar dan mengajar.( 2006)
[4] Belajar dan mengajar. 2006
[6] Manajemen pendidikan indonesia. 2004
[8] Manajemen pendidikan indonesia. 2004

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar